Jumat, 01 Mei 2020

Refleksi Masa Depan Dalam Menjawab Tantangan Zaman

Refleksi Masa Depan Dalam Menjawab Tantangan Zaman
Oleh : Winda Sugiatni
        


Dunia dan seisinya, kini telah mengalami guncangan hebat oleh makhluk Tuhan tak kasat mata bernama Corona. Pandemi global terkesan semakin memburuk, krisis terpapah yang bisa ditanggungkan umat manusia. Virus Corona, penyakit jenis baru yang masyarakat tanya-tanyakan kapan ini semua akan berakhir?

Berbagai prediksi dari ilmuan seluruh dunia pun kemudian muncul. Masing-masing memperhitungkan kapan pandemi  
virus Corona ini berakhir. Namun jawabannya masih abu-abu. Penulis terus menyoroti apa yang terjadi pada negara dan sistem politik sebelum Corona ini merubah tatanan dunia global.

Kebiasaan berubah akibat tabiat baru setelah work from home merebek, pembelajaran via online terjadi, lockdown, dilarang mengkitisi pemerintah, dilarang mudik, sebar hoax dipenjarakan. Pemakaman jenazah Covid19 ditolak karena takut penularan. Perawat diasingkan, bahkan diusir dari kosnya sendiri. Tidakkah rakyat perlu memahami lebih dalam lagi akan rencana Tuhan di balik Corona yang diturunkan untuk mengingatkan isi dunia yang penuh sendiwara?

Sebuah negara, membutuhkan sistem yang baik serta pemimpin yang pro terhadap kebutuhan rakyatnya. Terlebih dalam kondisi musim Corona yang mengharuskan rakyat untuk mengubah beberapa profesinya, karena krisis, PHK dan sebagianya. Realita yang sering terjadi di tanah air ini pun berbagai program politik mengatasnamakan konstitusi, tetapi peraturan yang dibuat justru kebanyakan kontradiksi dengan rakyat. Itu berarti telah memanipulir  mandat yang diberikan oleh para pengikut untuk kepentingan sekelompok elite.

Kepemimpinan inilah yang tidak kondusif bagi pendekatan egalitarisme. Contoh permasalahan yang menggerogoti rakyat sebelum Corona menyerang Indonesia yaitu BPJS naik dua kali lipat preminya, pendidikan semakin mahal, pembatasan disabilitas yang bergerak diranah publik CPNS, pajak dinaikkan untuk membantu menggaji aparat Negara. Dan peraturan lainnya yang masih kontradiksi dengan kehendak rakyat. Bahkan menurut salah satu anggota DPR yang mengikuti rapat bersama DPR-RI, bahwa peraturan semacam itu telah melanggar sila kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Belum lagi permasahan di skala Internasional, ummat Muslim di dunia telah terzholimi, di Palestina, Uighur, Rohingiya, di India mereka dirampas kebebasannya untuk beribadah. Bahkan pemerintahan di India sekali pun telah mengeluarkan Undang-undang anti terhadap Islam. 

Dimana pemimpin-pemimpin yang mengatakan dirinya adil Maha Perkasa? Dimana Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang selama ini mengagung-agungkan pemimpin-pemimpin dunia yang berada di bawah naungan sistem Kapitalisme? Kenapa mereka hanya diam melihat kezholiman yang merajalela? Sesungguhnya diam melihat kezholiman adalah zholim. 

Seharusnya, kita tidak cendrung menggunakan logika oposisi dalam melihat permasalahan. Tapi menggunakan oposisi yang seimbang, bagaimana kita harus menyeimbangkan kritikan dengan solusi. Bukankah Tuhan sendiri yang berjanji bahwa tidak akan ada masalah yang diturunkan kecuali akan ada solusinya bukan.

Kembali lagi kepada kitab yang menjadi pedoman, yang menjadi obat dan solusi bagi seluruh ummat manusia. Corona, adalah salah satu wabah yang dapat merusak kehidupan manusia. Bukankah segala kerusakan yang terjadi di muka bumi ini tidak lain dikarenakan atas dasar ulah tangan manusia itu sendiri? Di masa depan, manusia dan dunia akan mencapai puncak kejayaannya. Al-Qur'an menegaskan mengenai  tujuan alam semesta dan bagaimana puncak takdir manusia. Fitrah manusia hidup sebagai satu kesatuan yang akan kembali kepada kebenaran. Sebagaimana termaktub dalam QS 30:41.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Kita hidup pada zaman yang penuh konsfirasi. Terkadang menganggap keburukan adalah kebaikan, menganggap kebaikan sebagai kejahatan, menganggap fakta sebagai hoax, menganggap hoax sebagai fakta, yang menyampaikan kebenaran di hina dan di hujat, begitu pun sebaliknya, yang menyesatkan bangsa justru di puja puji manusia tertentu di akhir zaman. Atau bisa jadi menganggap solusi sebagai permasalahan. 

Sama halnya dengan sistem Khilafah  yang ditawarkan telah dianggap akan menimbulkan malapetaka yang lebih lagi. Bukankah sistem tersebut telah terealisasaikan mampu mensejahterahkan rakyat selama 13 abad lamanya? Dengan  mencapai 200 kasus selama 13 abad tersebut? Mari kita kembali membuka sejarah. Kemudian lihatlah, kasus-kasus yang terjadi dalam sistem Kafitalisme saat ini di dunia. Dalam satu tahun telah mencapai berapa kasus kejahatan? Jika kita telah membandingkan dan bisa mencerna sistem yang lebih ideal. Kenapa pemuda saat ini hanya bisa mengkitisi saja? Tanpa mau mencoba beralih ke sistem yang lebih ideal dari saat ini? Atau pemuda saat ini takut kehilangan hobinya turun ke jalan dengan lebel memperjuangkan rakyat itu? Atau memang takut terhadap penguasa-penguasa, takut akan kembali terjajah oleh bangsa kolonialisme. Penulis rasa, pemuda-pemudi hari ini telah terpinggirkan. Suaranya terkadang bisa dibungkam saat mengkitisi pemimpin dan negara.

Tiba-tiba krisis Ekonomi terjadi. Harga dolar naik. Proksi word dimulai. Tiba-tiba UU yang mau disahkan tanpa dasar kehendak rakyat. Ujung-ujungnya yuk kita demo. Gak demo gak aktivis, gak keren, gak berjuang. Sangat lucu memang negara dibawah sistem kapitalisme ini, hukuman pun bisa dibeli dengan uang. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Politik-politik di bawah sistem sekarang ini memang telah carut marut. 

Penulis sepakat bahwa pada dasarnya, semua sistem yang dibangun merupakan sistem yang baik. Baik itu sistem Kapitalisme, Sekulerislme, Pan-Islamisme dan isme-isme lainnya. Tetapi mengapa bisa terjadi kecurangan dan kebobrokan? Karena pada awal mendirikan sebuah sistem yang niatnya sebagai wadah untuk kemaslahatan umat, tetapi dalam pratiknya justru malah menimbulkan malapetaka. Karena terngiang dengan segala tipu daya dunia yang menggairahkan penguasa. 

Yang berkuasa semakin berkuasa, yang tertindas semakin tertindas. Makhluk mikrokosmos pun tak lagi bisa berbuat apa-apa diakhir ini. Sehingga sekarang, Tuhan sendiri yang turun tangan mengingatkan dunia dan seisinya melalui Corona. Sudah saatnya rakyat harus merenungi, memikirkan, mengahayati hikmah di balik Corona yang mengganaskan. Sebagai umat yang bergerak dalam Organisasi yang berlandasakan Keagamaan. Penulis rasa inilah saatnya kembali ikut terlibat dalam penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan dan kebangsaan, baik skala Nasional maupun skala Internasional. Meskipun hanya sekedar melalui tulisan. Saat ini permasalahan keumatan dan kebangsaan masih terus terjadi. Apakah memang benar, adanya Corona ini merupakan skenario akhir sejarah dari zaman post truch? 

Pemimpin yang diharapkan, adalah pemimpin yang otoriter tapi bijaksana. Artinya yang memutuskan keputusan atas dasar kepentingan bersama (yang dekat dengan Tuhan-Nya). Dan penulis rasa selama membuka sejarah, pemimpin-pemimpin yang diharapkan seperti demikian terdapat dalam kepemimpinan sistem Khilafah.  Sistem dan pemimpin yang baik merupakan solusi paska Corona ini berakhir. Maka kita juga tidak boleh pesimis untuk mencoba melakukan sebuah peradaban baru menuju umat yang sejahtera. Namun tawaran sebagian pemuda hari ini juga bukan semata-mata karena kehendak golongan saja. Tetapi menuju kebangkitan kedua umat inilah yang juga pernah dibisyarohkan atau dijanjikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Bahwa kelak, akan ada suatu masa  pemerintahan diakhir zaman yang sistem pemerintahannya sama seperti beliau. Tetapi sebelum semuanya terjadi akan ada terlebih dahulu masa kepemimpinan yang pemimpin-pemimpinnya itu adalah pemimpin-pemimpin yang zholim (pase ke empat). Dan lihat sekarang, banyak kan pejabat pejabat daerah kita yang terlibat kasus korupsi? 

Saat ini memang dapat dirasakan oleh semua kita rata-rata. Dan adanya kezoliman terhadap ummat Muslim di dunia sebenarnya konsekuensi dari ketidak adanya negara Khilafah yang melindungi. Dalam negara Khilafah, satu ummat muslim/non Muslim yang berada dalam naungan Khilafah  terzolimi, maka negara Khilafah itulah yang disalahkan dan khalifahnya harus mengelurkan jihad. Karena memelihara nyawa manusia diwajibkan. Sebagaimana dalam Al Qur'an surat Al-Maidah ayat 32. Menghilangkan satu nyawa tanpa uzur sangat dilarang karena sama saja dengan menghilangkan seluruh nyawa di dunia ini. 

Indonesia, sejak merebut kemerdekaannya dari negara-negara impralisme telah menganut sistem pemerintahan dari masa orde lama, orde baru menuju era reformasi. Tetapi penulis pribadi juga melihat sejarah yang dari tahun ketahun tersebut masih sama kontinue kondisinya. Sama-sama mahasiswa sering mengkritik pemerintahan, konsolidasi, kemudian demonstrasi bersama rakyat yang tertindas. Mereka para pemimpin-pemimpin kita juga sama, sama-sama mantan aktivis yang semasa menjadi mahasiswa mereka juga melakukan kritikan, dan sebagainya kepada pemerintahan pada masanya. Dan ujung-ujungnya ketika ia naik jabatan mereka sendiri yang justru di demo. 

Jangan sampai generasi selanjutnya juga nasifnya demikian seperti pemimpin-pemimpin kita terdahulu. Mengapa dari tahun bisa terjadi demikian? Apakah karena sistem yang kita gunakan memang tidak menerapkan di dalamnya peraturan-peraturan dari yang menciptakan manusia itu sendiri? Entahlah, segala perbuatan pasti akan ada konsekuensinya. 

Maka dari itu,  penulis merekomendasikan semua masyarakat di Indonesia maupun di belahan dunia manapun untuk sama-sama bersiap-siap merombak sistem yang telah lama bobrok. Tapi saya yakin, suatu saat hadis Rasulullah Saw dan janji Allah akan terbukti entah setelah perang dunia ke tiga terjadi dan selesai, lalu sistem kapitalisme yang penuh riba ini runtuh dan kembali kepada sistem  yang memegang nilai-nilai kebenaran untuk kemaslahatan umat dan negara.

Tidak mungkin semuanya terjadi jika hanya satu dua yang berniat dan bergerak untuk membuat sebuah peradaban baru demi terwujudnya masyarakat adil, makmur yang diridhoi oleh Tuhan Pencipta alam semsesta ini. Maka saat ini salah satu cara kita berjuang yaitu dengan cara menyampaikan solusi ini kepada seluruh ummat sedikit demi sedikit. Setelah semuanya terealisasikan, ini artinya bahwa kita telah mencoba untuk berusaha merealisasikan janji yang penuh kemuliaan dari ucapan Rasulullah Muhammad SAW. "Tsumatakunuu Khilafatan ala minhajinnubuwah."

Apakah kita tidak ingin mendapatkan kemuliaan tersebut? Ini adalah waktu dan kesempatan yang tepat untuk mencoba membuat sebuah peradaban baru disaat sistem telah bobrok. Disaat Corona menyapa dunia dan perlahan-lahan akan memusnahkan sejarah ini. Pemuda harus bergerak dikarenakan sebab. Sanggup berkolaborasi untuk memperjuangkan kebangkitan kedua ummat  yang dijanjikan Rasulullah SAW tersebut adalah kemuliaan besar. 

Berabad-abad lamanya, ummat ini terjajah oleh penguasa imprialisme. Sudah saatnya ummat bangkit dari keterpurukan yang menghimpit. Bertahun-tahun perjuangan tak pernah terealisasi untuk membuat peradaban baru. Kini saatnya Tuhan  menolong hamba-hambanya melalui yang tak di sangka. Yakinlah bahwa setiap usaha yg dilakukan akan mendapatkan "rewarding" dari sang Pencipta. Segala daya kekuatan itu urusan dan milik-Nya semata. Kita hanya bisa berdoa dan ikhtiarkan bersama. Hingga sebagian yang meyakini hanya bisa menunggu saatnya Corona ini mereda dan mengembalikkan dunia yang membaik dengan seizin Tuhan. 

Tahun lalu, penulis juga pernah  diposisi tidak pro dengan adanya peradaban baru semisal harus membuat peraturan-peraturan negara yang berasal dari Tuhan, sebut saja negara Khilafah. Bahkan Ketika berdiskusi, penulis paling sering menyanggah dan menentang Ustazah di salah satu forum Organisasi yang bergerak untuk memperjuangkan tegaknya negara Khilafah kembali. 

Tetapi minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun berganti ketahun lain penulis baru terluluhkan dengan sebuah hadis Rasulullah SAW : "Tshuma Takuunu hilafatan ala min'hajinnubuwah", yang artinya kemudian kelak diakhir zaman akan ada masa pemerintahan yang metode pemerintahanya sama seperti metode pemerintahan Rasulullah SAW. 

Itulah yang membuat hati penulis tergerak, yakin dan terus menyuarakan janji yang suatu saat ini akan teraliasikan di akhir zaman ini. Bahkan wabah Corona ini, sebenarnya juga telah disabdakan-Nya bahwa "kelak diakhir zaman, akan ada wabah dan penyakit yang melanda umat manusia diseluruh dunia. Kecuali ummatku yang senantiasa selalu menjaga wudunya".

Dan sekarang, virus Coronalah yang telah merealisasikan sabda Rasulullah SAW. Hingga ummat masih setia menanti terealisasaikannya janji yang mulia, yaitu tegaknya Khilafah kembali dan kedamaian dunia. Rasanya mustahil memang berhubung kita tidak mengetahui kapan Corona ini berakhir. Tapi satu prinsif penulis, yaitu YAKIN. Bukankah Tuhan itu berkuasa atas segala sesuatu?

TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN SELAMA KITA MASIH HIDUP DI DUNIA 

Dan satu hal yang ingin penulis sampaikan pada pemuda hari ini, bahwa kekuatan negara berada ditangan kaum pemuda yang bangkit jiwa-jiwanya. Ditangan pemuda segala yang muskyil bisa menjadi riil, karena anak muda adalah antitesis segala yang mustahil. Jika pergerakan mengubah sistem paska pandemi Corona ini berakhir, atau setelah perang dunia ke tiga terjadi, dan itu hanya untuk kebaikan masa depan umat manusia, kenapa kita menolak dan tidak menginginkan berada di garda perjuangan? 

Suka tidak suka tapi ketahuilah, bahwa Khilafah itu pasti akan terwujudkan kembali. Entah kapan itu terjadi, karena janji Rasulullah SAW tidak pernah bohong. Sama halnya ketika kota Konstatinovel tertaklukkan pada tahun 1453, itu merupakan salah satu realisasi dari janji Rasulullah SAW.

Dulu, negara Khilafah pernah berjaya memimpin dunia selama 13 abad lamanya. Dan mampu mensejahterahkan rakyat dari berbagai latar belakang agama, budaya, adat istiadat yang berlindung di bawah naungan Khilafah. Tidakkah kita merindukan sistem yang demikian?

Meyakini adalah awal menuju peradaban. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Tuhan berkata iya. Iss'inaf. Itu cukup bagi kita meyakini.

Akhir kalimat, penulis harapkan agar Tuhan tetap menjaga, melindungi, memelihara kita semua dimanapun dan kapanpun kita berada. Semoga wabah Corona ini berakhir dengan suasana dunia yang semakin membaik. Dan berdirinya negara Khilafah dalam memimpin dunia kembali adalah harapan besar penulis. Tetaplah berfikir positif di balik  Corona yang Tuhan kirimkan sebagai peringatan saat ini. 

Tuhan lebih mengetahui dari pada kita sebagai hamba-Nya. Jangan pernah kalian sesali segala yang terjadi di muka bumi ini, karena kisah kita sudah tertulis lebih dari 1400 tahun sebelum penciptaan bumi. Jadi, kisah Corona dan  tegaknya Khilafah kelak setelah perang dunia ke tiga terjadi bukanlah kebetulan. Melainkan telah tertulis secara perinci oleh sang SUTRADARA..

Tetap semangat, optimis, dan tetap meyakini, karena keyakinan adalah sepucuk surat bagi masa depan dunia. Kaki langit adalah tapal batas untuk ditaklukkan.

LINK UNTUK JOIN TRADING GAES : LEGAL dan DIAWASI BAPPEBTI

      https://mifx.com/live/r/sugiatni (Salin tautan tersebut ke google gaes untuk registrasi pembuatan akun demo maupun akun real) Info dep...