Setahun yang lalu, aku pernah sempat bersungguh-sungguh menjadi perempuan yang baik, tertutup, bahkan pernah berniat menjadi perempuan solehah seperti ukhty-ukhty yang pernah kutemui.
Namun di tengah-tengah perjalananku, aku mengalami kekecewaan yang begitu mendalam. Banyak hinaan dan kata-kata yang menjatuhkan tertimpa pada hidupku. Bahkan byk org2 munafik yg aku temukan di sela hijrahku. Perjalanan saat-saat kecewa ini jika dituliskan di blog, mungkin akan sangat panjang untuk dibaca karena terlalu banyak kisahku selama setahun ini.
Dan untuk saat ini, aku memilih untuk membagikan sedikit dari kisah hidupku yang cukup dramatis setelah berkecimpung melakukan gerakan ini. Sering kali air mataku terjatuh tanpa bersuara. Terkadang, aku sedikit malu untuk menceritakan dampak ini semua. Tapi niatku, tulisan ini hanyalah untuk dijadikan bahan renungan dan sebagai bahan pelajaran bagi kita semua, terutama aku pribadi agar berhati-hati dalam melakukan apa pun itu.
Kali itu .. aku berusaha berfikir positif pada Tuhanku. "Mungkin inilah yang dinamakan dengan cobaan menuju hijrah." Fikirku sepontan. Aku pun terus melangkah, tidak peduli yang membenciku menyuarakan dokrin keagamaan ini banyak .. baik teman Organisasiku di HMI dan BEM, ataupun dikalangan keluargaku sendiri. Aku tidak peduli sama sekali. Sama sekali.
Aku berkali-kali mencoba untuk bangkit, terus menerus menyuarakan dan menyebarkan doktrin keagamaan yang aku yakini kesohehannya. Namun tetap dianggap RADIKAL oleh sebagian orang yang kutemui.
Tidak apa, ini baru permulaan.. hatiku meyakinkan. Hingga beberapa teman-teman di Organisasiku berhasil aku mendoktrin mereka di suatu forum LK2. Mereka adalah orang-orang elite, bahkan paska LK2, salah satu dari mereka menjabat sebagai ketua DPM di Universitas Mataram.
Aku berharap pergerakanku ini diridhoi oleh Tuhanku, aku mencoba membangunkan diri ditengah malam secara rutin, aku membuka ayat-ayat suci dengan membaca tafsirannya, menangis sempat kulakukan sambil mencium haru Al Qur'an, rasa syukurku kuucapkan, bahkan berpuasa sunnah tak lupa kuusahakan. Aku benar-benar yakin, pergerakan yang kulakukan ini sangat mulia. Kuserahkan raguku, hidupku bahkan matiku pada Tuhan. BERJIHAD, itulah yang terlintas dalam benakku untuk siap dalam perjuangan ini. Semua ibadah tambahan yang kulakukan ini tidak lain untuk menyelaraskan pergerakanku dengan ibadahku yang belum maksimal sebelumnya.
Aku pernah satu kali mengikuti kajian intensif pada malamnya, namun aku malah memberontak di sana. Kecewa, lagi-lagi aku kecewa terhadap oknum yang membedakan Organisasi yang satu dengan yang lainnya. Jujur, bertubi-tubi aku ditanya-tanya, hingga emosiku sempat meluap, dan mencoba membantah argumentasi pembimbingku, aku tak suka melihat orang-orang yang merasa paling benar diantara lainnya meskipun ia melakukan sesuatu kebenaran. "Ya Allah, aku benar-benar ingin berada digarda perjuangan ini memang, tapi gak mesti aku harus berkecimpung di dalam Organisasi ini kan? Tunjukilah jalan-Mu yang Engkau ridhoi ya Allah." Hatiku berkata sambil mengusap pelan air mataku meninggalkan posisi mereka.
Beberapa hari kemudian, Tuhan mempertemukanku dengan pembimbing laki-laki. Lagi-lagi aku kecewa terhadapnya. Seolah-olah Tuhan menjadikanku sebagai hamba yang dikirimkan untuk membongkar kemunafikkan di balik jubah-jubah agama selama ini.
Astagfirullah, kali ini aku benar-benar kecewa, karena ini bukan hanya manusia yang ia permainkan, melainkan Tuhan dan Rasul-Nya. Kalian pernah membaca novel "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!" itukah? Sosok sosok seperti itulah yang kutemui ditengah-tengah perjalananku.
Dan bahwasannya aku sendiri menyadari, ruang-ruang kemaksiatan itu semakin membuka kesempatan untukku. Kenapa? Kenapa banyak oknum-oknum yang menjadi seperti demikian setelah melakukan pergerakan ini? Barangkali aku adalah pelaku yang terkesan munafik. Jika Kiran melampiaskan diri menjadi Pelacur setelah kekecewaannya, justru aku melebihi maksiatnya kiran waktu itu. Aku justru menjadi syirik. Dukun-dukun aku datangin. Untuk mengeluarkan jin-jin yang dikirimkan laki laki Hindu yang menjadi kekasih pertamaku kali itu.
Sejak SMP SMA aku tak pernah mau berpacaran sebenarnya, puluhan laki laki di sekolah dan di kampungku aku tolak, demi prinsif hidup yang kuat saat itu jua. Tapi kali ini, aku rapuh, aku berhasil di taklukkan dengan ilmu pelet peletnya melalui makanan yang ia sendiri masakkan di rumahnya.
Tuhan, aku mencoba kembali mengingat Tuhanku setelah beberapa hari kejadian itu. Apa yang sebenarnya telah kulakukan? Sifat-sifat ramahku menjadi sedikit hilang. 60% keadaanku berubah menjadi tidak stabil. Emosiku berkali-kali meletup tanpa sebab yang jelas. Belum lagi soal raga dan batinku yang merasa tersiksa. Apakah ini, dampak serangan jin jahat yang menguasai tubuhku? Berkali-kali aku mendatangi sesuatu yang membuat imanku memudar. Rasanya dihipnotis, padahal .. aku pada dasarnya tahu bahwa yang kulakukan ini bertentangan dengan ajaran agamaku.
Tetapi aku semakin menghamba pada selain Tuhanku, aku malah memberikan tumbal ayam jantan kepada jin, menyiapkan sesajen, rokok hitam, beras kuning dan lain-lain di dalam rumahku untuk dipersembahkan kepada jin-jin yang ada ditubuhku, bahkan aku sempat meyakini benda-benda hitam lainnya yang dapat menolongku. Kakakku marah besar setelah mengetahui perbuatanku yang aneh-aneh akhir itu, ia menyuruhku untuk mandi taubat, solat taubat, ia menyuruhku dengan tegas untuk menghentikan perbuatanku yang bergantung pada benda yang seolah-olah menjadi Tuhanku saat itu. Sambil menangis. aku memohon ampunan pada Tuhanku dengan mengulang-ngulang kalimat syahadat.
Jika pergerakan ini tidak Engkau ridhoi, ya Tuhanku. Buatlah aku seperti semula yang tidak terobsesi dengan gerakan-gerakan semacam ini? Aku pun menemukan hadis Rasulullah SAW. Ternyata ummat-ummat semacam ini telah di sabdakan akan bermunculan di akhir zaman. Awalnya aku tak percaya hadis ini, tapi ternyata .. Allah sendiri yang membuat aku melihat dengan sendirinya, bahkan akulah barangkali ummat yang digolongkan munafik itu. Kita seolah-olah menganggap perbuatan kita ini benar, tapi belum tentu benar di mata Tuhan karena terlalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang salah akan perannya pemerintahan kita sendiri.
Bagiku, ini adalah suatu permasahan besar dari zaman Kiran hingga zamanku saat ini. Cobaan yang kulalui menjadikanku bukan malah semakin membaik tapi malah semakin memburuk kurasakan. Bukan hanya permasahan di oknum-oknum tersebut yang kurasakan. Namun di kalangan keluargaku berefek samping karena mereka tak suka dengan pergerakanku yang teramat radikal. Masalahku dikeluarga bukan semakin membaik, tapi justru sebaliknya.
Kata orang, ketika cobaan datang menghampiri, tidak ada gunanya marah-marah, tidak ada gunanya berkeluh kesah, tapi cara yang paling ampuh adalah berdoa. Berdoa? Itu yang kulakukan demikian. Apa benar, doa itu mengalahkan segalanya? Aku kali ini ingin agar doa itu menjadi cara untuk membuka anugrah Tuhan dalam hidupku, dalam kuliahku, dalam pekerjaanku, dalam keluargaku, dalam usaha dan dalam setiap hal di hidupku. Karena dengan kecewa dan berdoa, aku dapat menangis dan mengadu kepada Tuhan.
Iya .. kata orang doa memang bisa menyembuhkan, doa memang bisa membawa keajaiban.. tapi apa yang terjadi jika doa kita tidak kunjung ada jawabannya?
Salahkah diriku?
Kalau mungkin semua itu membuat aku bertanya-tanya
Kenapa Tuhan kok gak menjawab doaku?
Kenapa Tuhan kok tega?
Kenapa Tuhan kok gak membantuku?
Dimanakah dia? Saat aku sangat membutuhkannya
Salahkah aku, kalau iman yang selama ini tegar bagai batu karang mulai terkikis .. karena keraguan
Dan kini, imanku sudah berhasil tergoyahkan
Jika di masa hidupku imanku pernah merasa goyah. Dan kepercayaanku sedikit pudar, itu adalah sesuatu yang wajar kah? wajar jika aku melakukan dosa, wajar jika aku melakukan sesuatu yang membuat hidupku semakin dekat dengan kehancuran. Karena aku manusia, aku ingin merasakan hinaan dalam hijrahku, dan aku ingin tau rasanya dihakimi jika berbuat kesalahan, berbuat dosa yang pernah kulakukan. Sekali-kali, melanggar perintah Tuhan itu apakah salah?
Salah diri sendiri pasti sudah ketentuanya, berbuat kebaikan saja terkadang aku bisa disalahkan oleh orang lain, bagaimana jika aku pernah melakukan kesalahan yang benar-benar pernah kulakukan? Dunia, dunia, sekarang aku sudah mengerti rasanya menjadi sosok iblis yang dihinakan sebagian ummat manusia.
Dari kejadian itu, seolah-olah aku ingin merangkul semua iblis, syaitan ataupun makhluk gaib lainnya bernama jin. Aku rela tersiksa untuk belajar mencintai dan belajar berdampingan dengan mereka meskipun aku bukan dari golongan mereka untuk sementara waktu.
Iya, aku hanyalah manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan, penuh dosa, penuh kemaksiatan. Dan dunia tempatku berada ini dihuni oleh ketidaksempurnaan yang membuatku kecewa dan mengecilkan imanku.
Maka dari itu, Tuhan pun berkata
"Asalkan kamu memiliki iman sekecil biji sawi saja, itupun sudah cukup untuk bisa menghasilkan kuasa yang luar biasa."
Tapi iman yang kecil itu, apakah aku bisa besarkan kembali?
Aku memilih untuk menjalani hari demi hari di hidupku dengan iman, meskipun dicampur dengan perasaan bersalah. Dan tidak peduli sesulit apapun hidup ini saat ini, aku berharap itu tidak menghentikan langkahku untuk tetap berbuat sesuatu dan bahkan menjadi sumber berkat bagi sesama kedepannya.
Aku ingin selalu hidup dengan iman, tapi kapan hidup dengan perasaan bersalah ini menghilang?
